Pesantren Mifathurrahmah yang terletak di pinggiran hutan belantara kembali menjadi pusat perhatian publik karena keunikan pola pendidikannya yang sangat erat dengan alam. Baru-baru ini, tersiar kabar mengenai seorang santri yang berhasil melakukan hal yang dianggap mustahil oleh banyak orang, yakni membangun komunikasi batin dan keharmonisan dengan penghuni hutan. Melalui pendekatan yang penuh kasih sayang dan spiritualitas, para pelajar di sana diajarkan untuk tidak takut, melainkan belajar bagaimana jinakkan hewan dengan cara-cara yang sangat halus. Fenomena ini bukan didasarkan pada ilmu sihir atau trik sirkus, melainkan pada pemahaman mendalam mengenai konsep rahmatan lil alamin atau menjadi rahmat bagi semesta alam, termasuk kepada makhluk yang dianggap sebagai hewan liar.
Kisah yang paling fenomenal adalah ketika seorang santri junior mampu menenangkan seekor babi hutan dan monyet liar yang sering merusak tanaman warga. Keajaiban ini terjadi bukan melalui kekerasan atau perangkap, melainkan melalui ketenangan batin sang santri yang berhasil tersebut. Di Mifathurrahmah, para santri dididik untuk memiliki energi yang damai dan tidak mengancam. Upaya untuk jinakkan hewan dimulai dengan cara membersihkan hati dari rasa benci dan takut. Mereka meyakini bahwa hewan liar memiliki insting yang sangat peka terhadap energi manusia; jika manusia tersebut memiliki hati yang bersih dan penuh kasih, maka hewan tersebut akan merasa aman dan tidak akan menyerang.
Metode yang digunakan di pesantren ini melibatkan pemberian pakan secara rutin yang dibarengi dengan pembacaan wirid-wirid tertentu yang tujuannya untuk melembutkan sifat beringas makhluk. Pengalaman sang santri yang berhasil ini menunjukkan bahwa ada bahasa universal yang melampaui kata-kata, yaitu bahasa kasih sayang. Saat mencoba jinakkan hewan yang sedang mengamuk, santri tersebut hanya berdiri tenang dan membacakan selawat dengan penuh keyakinan. Secara perlahan, sang hewan liar tersebut yang tadinya terlihat mengancam justru mendekat dengan tenang dan menundukkan kepalanya. Kejadian ini membuktikan bahwa kekuasaan manusia atas alam seharusnya dijalankan dengan cinta, bukan dengan eksploitasi atau pemusnahan.