Di era informasi yang sangat deras, penyebaran berita bohong atau informasi palsu telah menjadi polusi digital yang dapat merusak kerukunan warga. Menyikapi ancaman ini, Darul Mifathurrahmah meluncurkan sebuah inisiatif yang bersifat akar rumput namun sangat strategis. Mereka memutuskan untuk secara aktif lawan hoaks dengan cara masuk ke unit terkecil masyarakat. Melalui sebuah gerakan cerdas, mereka memberikan edukasi literasi digital yang masif dimulai dari tingkat RT. Fokus utamanya adalah memberdayakan warga agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi-narasi menyesatkan yang sering kali memecah belah persaudaraan di lingkungan perumahan.
Strategi yang digunakan oleh Darul Mifathurrahmah adalah dengan menjemput bola. Mereka menyadari bahwa banyak warga usia lanjut yang kurang akrab dengan cara kerja platform digital, sehingga menjadi sasaran empuk penyebaran disinformasi. Relawan dari lembaga ini mendatangi perkumpulan warga, pengajian RT, hingga arisan ibu-ibu untuk memberikan penjelasan mengenai ciri-ciri informasi yang tidak valid. Edukasi ini dilakukan dengan bahasa yang sederhana, menarik, dan mudah dipahami, tanpa memberikan kesan menggurui. Warga diajarkan cara melakukan verifikasi sederhana sebelum membagikan ulang sebuah pesan yang mereka terima di grup aplikasi percakapan.
Pentingnya gerakan ini di tingkat lingkungan terkecil didasari oleh fakta bahwa hoaks sering kali menyebar melalui jalur kedekatan personal. Pesan yang dikirim oleh tetangga atau saudara cenderung lebih mudah dipercaya daripada berita resmi. Oleh karena itu, Darul Mifathurrahmah menanamkan prinsip “Saring sebelum Sharing” di setiap rumah. Dengan adanya kesadaran kolektif untuk menolak informasi palsu, ekosistem informasi di tingkat RT menjadi lebih sehat. Warga menjadi lebih kritis dan tidak mudah terhanyut oleh emosi saat membaca judul berita yang provokatif namun tidak memiliki dasar fakta yang kuat.
Selain memberikan pengetahuan teknis, Darul Mifathurrahmah juga menekankan aspek etika dalam berkomunikasi secara digital. Dalam perspektif moral, menyebarkan berita bohong adalah tindakan yang sangat merugikan dan bisa berujung pada fitnah. Gerakan ini mengajak warga untuk lebih bijak dalam menggunakan gawai mereka. Bukan hanya soal benar atau salah, tetapi juga soal apakah informasi tersebut membawa manfaat atau justru menimbulkan kegaduhan. Inilah esensi dari “Gerakan Cerdas” yang tidak hanya mengandalkan kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan moral dalam bermedia sosial.