Peta Bencana: Ekspedisi Jalur Evakuasi Mifathurrahmah

Fokus utama dari program ini adalah pembuatan Peta Bencana yang sangat mendetail untuk lingkungan internal pesantren dan desa-desa penyangga di sekitarnya. Pemetaan ini bukan hanya berdasarkan asumsi, melainkan melibatkan survei topografi dan sejarah bencana yang pernah terjadi di wilayah tersebut. Para santri senior yang telah mendapatkan pelatihan khusus diajak untuk mengidentifikasi titik-titik rawan, seperti lereng yang labil, saluran air yang tersumbat, hingga bangunan yang tidak tahan gempa. Peta ini kemudian dipasang di titik-titik strategis agar masyarakat memiliki kesiapsiagaan yang sama.

Kegiatan yang paling menantang dalam program ini adalah pelaksanaan Ekspedisi Jalur Evakuasi yang dilakukan secara rutin setiap tiga bulan sekali. Dalam ekspedisi ini, tim dari pesantren bersama tokoh masyarakat setempat berjalan menyusuri rute-rute tercepat dan teraman menuju titik kumpul atau tempat yang lebih tinggi. Mereka memastikan bahwa jalur tersebut tidak terhalang oleh pagar, semak berduri, atau bangunan liar. Jika ditemukan hambatan, para santri akan bekerja sama dengan warga untuk membersihkannya secara gotong royong, memastikan bahwa saat darurat terjadi, tidak ada rintangan yang menghambat mobilitas orang tua, anak-anak, dan difabel.

Peran strategis Mifathurrahmah dalam hal mitigasi bencana ini telah mengubah paradigma masyarakat desa. Jika sebelumnya warga hanya pasrah saat bencana datang, kini mereka memiliki pengetahuan dasar mengenai apa yang harus dilakukan dalam “emas” (menit-menit awal bencana). Pesantren juga menyediakan simulator sederhana dan papan petunjuk arah yang berpendar di malam hari (fluoresens) di sepanjang jalur evakuasi. Hal ini sangat penting mengingat bencana seringkali terjadi di waktu yang tak terduga, termasuk saat malam hari ketika jarak pandang sangat terbatas.

Di lingkup pesantren, pendidikan mengenai Jalur Evakuasi diintegrasikan ke dalam materi kepramukaan dan latihan kedisiplinan. Santri dilatih untuk melakukan simulasi evakuasi tanpa kepanikan. Mereka diajarkan cara membawa tas siaga bencana yang berisi dokumen penting, obat-obatan, dan air minum. Kedisiplinan santri saat mengantre wudhu atau makan diterapkan dalam simulasi evakuasi, di mana ketertiban menjadi kunci utama untuk menghindari jatuhnya korban akibat berdesak-desakan. Mifathurrahmah ingin membuktikan bahwa pesantren bisa menjadi pusat komando dan perlindungan bagi masyarakat saat situasi krisis melanda.