Sistem Pengajaran Sorogan dan Bandongan: Mengapa Metode Klasik Ini Masih Relevan?

Di tengah derasnya arus modernisasi dan adopsi teknologi dalam dunia pendidikan, pesantren tetap setia mempertahankan metode pengajaran klasik yang telah berusia berabad-abad. Dua dari metode yang paling ikonik adalah sistem pengajaran sorogan dan bandongan. Meskipun terlihat kuno, kedua metode ini terbukti sangat efektif dalam membentuk karakter dan kedalaman pemahaman santri. Relevansi mereka di era modern membuktikan bahwa esensi pendidikan yang berpusat pada guru dan interaksi langsung tidak akan pernah usang. Mengapa sistem pengajaran sorogan dan bandongan masih menjadi fondasi pendidikan di banyak pesantren? Jawabannya terletak pada keunikan dan manfaat yang mereka tawarkan.

Sistem pengajaran sorogan adalah metode individual, di mana seorang santri menghadap guru (Kyai atau Ustadz) secara personal untuk membaca atau menyetorkan hafalan dari kitab. Guru akan mendengarkan dengan seksama, mengoreksi kesalahan, dan menjelaskan makna yang lebih dalam. Metode ini menciptakan hubungan personal dan batiniah yang kuat antara guru dan santri, mirip dengan hubungan seorang murid dengan ahli spiritual di masa lalu. Ini memastikan bahwa setiap santri mendapatkan perhatian penuh dan pemahaman yang mendalam. Sebuah laporan dari sebuah lembaga riset pendidikan yang diterbitkan pada awal tahun 2025 menunjukkan bahwa santri yang belajar dengan metode sorogan memiliki tingkat pemahaman materi 30% lebih tinggi.

Sementara itu, metode bandongan adalah kebalikannya, di mana guru membacakan kitab dan menerjemahkannya, sementara para santri mendengarkan dan mencatat. Metode ini memungkinkan guru untuk mengajar sejumlah besar santri sekaligus, menyampaikan materi secara efisien. Namun, keunggulan utamanya bukan hanya pada efisiensi, tetapi pada pembentukan budaya belajar kolektif. Para santri belajar dari guru dan juga dari catatan serta pemahaman teman-teman mereka, menciptakan atmosfer kolaboratif. Dengan sistem pengajaran sorogan dan bandongan, santri mendapatkan yang terbaik dari dua dunia: bimbingan personal dan pembelajaran kolektif.

Pada akhirnya, sistem pengajaran sorogan dan bandongan adalah bukti bahwa metode klasik tidak selalu usang. Mereka relevan karena mereka berfokus pada apa yang paling penting: hubungan antara guru dan murid, disiplin diri, dan kedalaman pemahaman. Kedua metode ini mengajarkan santri untuk menjadi pembelajar sejati, bukan hanya penghafal. Mereka membuktikan bahwa dalam pendidikan, koneksi manusia dan interaksi langsung adalah kunci yang tak tergantikan, bahkan di era yang paling digital sekalipun.