Menggali Kedalaman Ilmu: Metode Pengajaran Kitab Kuning di Pesantren

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang telah lama dikenal dengan metode uniknya dalam menggali kedalaman ilmu, khususnya melalui pengajaran kitab kuning. Sistem ini tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk pemahaman yang komprehensif dan karakter santri. Pada Senin, 24 Februari 2025, dalam sebuah lokakarya pendidikan di Pusat Studi Peradaban Islam, Jakarta, Dr. K.H. Faiz Syukron Makmun, seorang ahli filologi Islam, menjelaskan, “Metode pengajaran kitab kuning di pesantren adalah warisan intelektual yang memungkinkan santri meresapi makna dan konteks ajaran agama secara otentik.” Pernyataan ini didukung oleh temuan manuskrip-manuskrip kuno yang tersebar di berbagai pesantren, sebagaimana dikatalogkan oleh Lembaga Studi Naskah Klasik Islam pada akhir tahun 2024.

Dua metode utama yang menjadi tulang punggung dalam menggali kedalaman ilmu di pesantren adalah sistem sorogan dan bandongan. Dalam metode sorogan, santri secara individu menghadap kyai atau ustadz, membaca bagian dari kitab kuning, dan menerima koreksi serta penjelasan langsung. Interaksi personal ini memungkinkan santri untuk bertanya secara detail dan mendapatkan bimbingan yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman mereka. Sementara itu, metode bandongan (sering juga disebut wetonan) melibatkan kyai yang membacakan dan menjelaskan kitab kepada sekelompok besar santri. Santri menyimak, membuat catatan di pinggir kitab mereka, dan sesekali bertanya. Metode ini efektif untuk transfer informasi dasar dan menumbuhkan suasana belajar kolektif. Sebagai contoh, pada 18 Maret 2025, dalam sebuah acara haflah (wisuda) di pesantren Lirboyo, Kediri, banyak alumni yang bersaksi tentang bagaimana kedua metode ini membentuk pemahaman mendalam mereka.

Proses menggali kedalaman ilmu ini juga melibatkan aspek muraja’ah (pengulangan) dan mutala’ah (kajian mandiri). Santri tidak hanya mengandalkan penjelasan kyai, tetapi juga secara aktif mengulang pelajaran dan mengkaji sendiri kitab-kitab tersebut, seringkali berdiskusi dengan sesama santri. Hal ini melatih kemandirian belajar dan kemampuan analisis. Pada pukul 09.30 WIB pada hari lokakarya tersebut, Dr. Faiz menyoroti pentingnya etos belajar santri yang sangat tinggi, yang didorong oleh kedua praktik ini.

Lebih dari sekadar hafalan, tujuan utama dalam menggali kedalaman ilmu adalah menumbuhkan pemahaman yang kontekstual dan aplikatif. Santri diajarkan untuk memahami relevansi ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari dan tantangan modern. Pendekatan ini juga membangun kecerdasan spiritual dan moral. Seorang perwakilan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang melakukan kunjungan ke sebuah pesantren di Jawa Barat pada 12 April 2025, mengapresiasi metode pembelajaran yang mampu menanamkan pemahaman agama yang moderat dan toleran. Dengan demikian, pesantren, melalui metode pengajaran kitab kuningnya, terus menjadi institusi vital untuk menggali kedalaman ilmu yang membentuk individu berilmu, berakhlak, dan berwawasan luas.