Model pendidikan di pesantren dikenal kaya akan metode pembelajaran inovatif yang sering kali terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu metode yang paling efektif dan telah menjadi tradisi adalah Sistem Peer Tutoring oleh Santri Senior. Dalam sistem ini, santri yang memiliki pemahaman lebih baik atau telah mencapai tingkat studi tertentu berperan sebagai “guru dadakan” bagi santri junior atau teman sebaya yang membutuhkan bantuan. Praktek ini tidak hanya membantu mengatasi keterbatasan jumlah guru formal, tetapi juga menumbuhkan tanggung jawab, kemampuan komunikasi, dan penguatan materi bagi santri senior yang mengajar. Dengan kata kunci utama Sistem Peer Tutoring oleh Santri Senior, kita akan mengupas bagaimana model ini secara fundamental meningkatkan kualitas belajar di lingkungan pesantren.
Pelaksanaan Sistem Peer Tutoring oleh Santri Senior biasanya terstruktur dan terintegrasi dalam jadwal harian. Di Pondok Pesantren Modern Al-Kautsar, misalnya, program ini dikenal sebagai Mudzakarah Harian dan wajib dilaksanakan setiap hari setelah salat Magrib, mulai pukul 19.30 WIB hingga 20.30 WIB. Santri senior kelas akhir (Kelas VI) diberi mandat untuk memimpin kelompok belajar yang terdiri dari 5-7 santri junior (Kelas I dan II). Mereka bertugas mengulang dan mendalami pelajaran yang disampaikan guru formal pada siang hari, terutama untuk mata pelajaran kritis seperti Bahasa Arab (Nahwu dan Shorof) dan hafalan Al-Qur’an. Berdasarkan evaluasi semester ganjil tahun ajaran 2024/2025 yang dirilis oleh Bagian Pengajaran Pesantren, rata-rata nilai ujian santri junior yang aktif mengikuti Mudzakarah Harian menunjukkan peningkatan 15% dibandingkan santri yang tidak mengikuti, menunjukkan efektivitas yang signifikan dari pendekatan ini.
Keuntungan dari Sistem Peer Tutoring oleh Santri Senior bersifat dua arah. Bagi santri junior, belajar dari teman sebaya sering kali terasa kurang intimidatif dan lebih mudah dicerna. Santri senior biasanya menggunakan bahasa dan pendekatan yang lebih santai dan relevan dengan pengalaman belajar mereka sendiri, sehingga materi sulit menjadi lebih mudah dipahami. Sementara itu, bagi santri senior yang mengajar, ini adalah proses penguatan ilmu yang paling ampuh. Sesuai dengan pepatah “cara terbaik untuk belajar adalah dengan mengajar,” mereka dipaksa untuk menguasai materi secara mendalam agar dapat menjelaskannya dengan jelas. Kemampuan ini juga melatih leadership dan keterampilan pedagogi yang sangat berguna kelak di kehidupan bermasyarakat.
Struktur pengawasan dalam sistem ini juga dilakukan secara spesifik. Setiap pekan pada hari Sabtu sore, para santri senior yang menjadi peer tutor diwajibkan mengikuti pertemuan evaluasi dengan Koordinator Pengajaran yang merupakan salah satu Ustaz senior, katakanlah Ustaz Ahmad Nurdin, S.Pd.I. Dalam pertemuan yang diadakan pada Sabtu, 7 Desember 2024, pukul 16.00 WIB, Ustaz Ahmad memberikan feedback spesifik mengenai teknik pengajaran, materi yang perlu ditekankan, dan cara menangani pertanyaan sulit dari santri junior. Dengan adanya monitoring dan evaluasi rutin, kualitas Sistem Peer Tutoring oleh Santri Senior tetap terjaga dan tidak berjalan serampangan. Ini memastikan bahwa “guru dadakan” ini tetap terarah dan sejalan dengan kurikulum formal yang ditetapkan. Secara keseluruhan, sistem ini bukan hanya solusi praktis, tetapi juga inti dari pendidikan karakter yang mengajarkan tanggung jawab, empati, dan penguasaan ilmu yang berkelanjutan.